Rabu, 20 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya

Korean Speech Contest 2018, Pemenang Utama Pergi ke Korea Seminggu

Sabtu, 26 May 2018 19:50 | editor : Abdul Rozack

BANGGA: Emily Abigail berhasil memenangkan juara pertama dalam lomba Korean Speech Contest 2018 yang digelar di UK Petra, Sabtu (26/5).

BANGGA: Emily Abigail berhasil memenangkan juara pertama dalam lomba Korean Speech Contest 2018 yang digelar di UK Petra, Sabtu (26/5). (Ginanjar Elyas Saputra/Radar Surabaya)

Mengenalkan budaya Korea dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah melalui perlombaan pidato menggunakan Bahasa Korea yang digelar oleh King Sejong Institute (KSI) bersama sejumlah universitas di seluruh dunia. Di Surabaya, lomba ini digelar bekerjasama dengan Universitas Kristen Petra Surabaya. 

Ginanjar Elias Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Kehadiran K-Pop dan K-Drama atau gelombang Korea di Indonesia berhasil memikat anak-anak muda. Untuk lebih mengenalkan budaya Korea, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Sabtu (26/5), menggelar Korean Speech Contest 2018, sebuah event budaya yang setiap tahun digelar King Sejong Institute (KSI) menggandeng perguruan tinggi. KSI ini didirikan sejak Agustus 2015 lalu.

Liliek Soelistyo, Kepala King Sejong Institute (KSI) di UK Petra, Surabaya, mengatakan kompetisi pidato berbahasa Korea dengan tema Kebudayaan Korea yang Unik dan Membuat Hati Bergetar atau Jatuh Cinta, ini hanya diperuntukkan bagi murid KSI saja semester 1 tahun 2018 dengan usia minimal 18 tahun. 

"Peserta terdaftar 17 orang. Masing-masing peserta diberi waktu 5 menit untuk berbicara menggunakan bahasa Korea. Sedangkan untuk penilaian, masing-masing ada 4 kategori," terang Liliek.

Lebih lanjut Liliek menjelaskan, ke 4 kategori atau kriteria yang dinilai yaitu kemampuan bahasa (pronounce, intonasi, kelancaran, dan grammar), penampilan (kosakata, ekspresi, percaya diri isi pidato), respons (gerak tubuh dan reaksi penonton) hingga manner (stage manner dan ketepatan waktu). 

Menurut Liliek, setiap peserta saat mempersiapkan naskah yang akan ditampilkan wajib didampingi guru pendamping yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh panitia untuk bertugas mendampingi peserta kompetisi.

"Peserta wajib didampingi seorang guru atau disebut Songsaengnim dalam bahasa Korea. Guru pendamping itu sebelumnya memeriksa naskah yang sudah dibuat peserta sebelum naik ke atas panggung," tambah Liliek.

Dalam kompetisi Korean Speech Contest 2018 ini, selain Liliek ada dua juri lain dari masyarakat Korea, yaitu Lee Gyeong Youn selaku Vice President of Korean Community dan Lee Sang Jae, pengelola kursus Bahasa Korea.

Para pemenang dari kompetesi ini mendapatkan beberapa penghargaan dan beasiswa. Mereka berkesempatan mengikuti kompetisi semifinal dan belajar bahasa Korea selama seminggu di Dong a University. 

"Pemenang pertama kompetisi ini selain menerima hadiah uang juga mendapat kesempatan pergi ke Korea selama seminggu guna mengikuti sejumlah kegiatan budaya pada bulan September 2018 nanti," kata Liliek.

Seperti halnya Emily Abigail yang mendapat kesempatan mengikuti kompetisi pidato pada tahap semi final di Korea, dirinya mengaku senang dan bersyukur mendapat kesempatan tersebut. 

“Bersyukur saya bisa ikut kompetisi ini dengan susah payah dan berhasil menjadi juara pertama. Semoga kesempatan emas dapat saya manfaatkan sebaik mungkin, untuk mempelajari lebih dalam lagi bahasa Korea di negaranya langsung,” kata Emily seusai perlombaan. (*/hen)

(sb/gin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia