Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Lansia Yang Berpuasa, Perbanyak Makanan Mengandung Serat

Minggu, 27 May 2018 05:00 | editor : Abdul Rozack

AYO MAKAN: Saat berpuasa, lansia harus mendapatkan semua kebutuhan zat untuk tubuhnya. Mulai karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin maupun air. T

AYO MAKAN: Saat berpuasa, lansia harus mendapatkan semua kebutuhan zat untuk tubuhnya. Mulai karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin maupun air. Terutama serat dari sayur dan buah-buahan, sangat disarankan untuk selalu dikonsumsi. (ROWPIXEL)

Lansia biasanya memiliki masalah pada nafsu makan. Kebanyakan dari mereka mengalami penurunan nafsu makan ketimbang saat masih muda. Padahal, tubuh tetap memerlukan asupan-asupan bergizi dan seimbang agar metabolisme dalam tubuh berjalan seimbang. Apalagi saat puasa seperti ini. Untuk itulah,  peran keluarga sangat penting untuk mendorong mereka agar tetap semangat untuk mengonsumsi makanan yang sehat. 

Ismaul choiriyah -Wartawan Radar Surabaya 

Hal ini disampaikan oleh ahli gizi Rumah sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya, Kalina Ratna Dewi, S.Gz. Ia menjelaskan, pada lansia, mereka kerap terkena masalah pencernaan yang kurang lancar. Untuk itulah, konsumsi makanan yang tinggi serat sangat diperlukan. Saat berpuasa, pemberian makanan tinggi serat ini bisa diberikan saat berbuka dan setelah tarawih. “Sayur-sayuran hijau itu kaya akan serat. Selain itu, ada buah-buahan, seperti apel dan pepaya itu bagus diberikan agar membantu proses pencernaan mereka,” ujar Kalina kepada Radar Surabaya. 

Lebih lanjut dijelaskannya, selain kehilangan nafsu makan, lansia cenderung tak kuat untuk makan dalam jumlah yang besar. Hal ini jika tidak diawasi, akan menimbulkan masalah, seperti gizi tak seimbang. Di sinilah peran keluarga perlu untuk memberikan gizi terbaik kepada mereka. 

Kalina membagi pola makan lansia menjadi tiga kali dalam sehari, yakni di waktu buka, setelah tarawih dan juga saat sahur.  “Presentasenya, 40 persen di waktu buka, 50 persen sahur dan 10 persen pada seusai sholat tarawih,” ujarnya. 

Pemberian sayur bisa diberikan separuh prosi saat berbuka. Lalu dilanjutkan sesaat setelah tarawih. Begitu pun dengan buah. Tak harus diberikan langsung saat berbuka. Asalkan satu hari ada konsumsi buah, itu sudah cukup. “Dan diusahakan buah yang diberikan juga yang mudah mereka konsumsi. Dalam artian tidak keras, seperti pisang dan lain sebagainya,” imbuhnya. 

Variasi dengan olahan lain, juga ia anjurkan agar lansia lebih semangat dalam makan sayur dan buah. Misalnya saja dibuat dalam sop buah dan semacamnya. Namun, ia tetap mengingatkan untuk membatasi konsumsinya. Apalagi kepada mereka yang memiliki riwayat dabetes. “Makan manis boleh. Buah diberikan dalam bentuk sop atau puding, juga bagus. Asalkan tetap porsinya kecil,” kata Kalina. 

Ia menambahkan, kebutuhan kalori pada lansia pun berbeda satu dengan yang lain. Kalina menekankan, untuk mengkaver seluruh kebutuhan gizi, makanan yang dikonsumsi harus mencakup seluruhnya, mulai dari karbohidrat, protein, mineral, lemak dan juga vitamin dan air. “Makanan dengan gizi seimbang yang terdiri dari nasi atau penggantinya, protein hewani seperti daging dan telur, atau protein nabati, seperti tahu dan tempe, sayur dan buah sebagai sumber serat mineral dan vitamin.  Juga air sebanyak delapan gelas perhari,” ingatnya. (*/opi/habis) 

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia