Sabtu, 23 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Pedagang Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Sabtu, 02 Sep 2017 13:10 | editor : Andrian Sunaryo

BANDEL : Pedagang nekad masuk ke dalam Alun-Alun Trenggalek dan menjajakan barang dagangannya.

BANDEL : Pedagang nekad masuk ke dalam Alun-Alun Trenggalek dan menjajakan barang dagangannya. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGLEK)

Berita Terkait

TRENGGALEK- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek masih memiliki segudang pekerjaan rumah (PR) terkait persoalan banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang beroperasi di Taman Alun-alun Trenggalek. Kendati beberapa kali diperingatkan dan ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP, mereka tetap bandel. Seperti terlihat di Alun-Alun kemarin (1/9).

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sejak pagi hingga sore, terlihat beberapa pedagang nekat masuk ke taman untuk menggelar dagangannya. Selain langsung menggelar barang dagangannya dengan tikar di area tersebut, juga ada beberapa pedagang yang menaruh dagangannya di sepedanya. Alasannya, jika ada petugas Pol PP, sebelum dimarahi mereka bisa langsung pergi dari area tersebut. “Kami tahu berdagang di sini dilarang, ya mau apa lagi,  ini terpaksa dilakukan karena keuntungannya cukup menjanjikan,” ungkap Romlah, salah seorang pedagang yang menggelar lapaknya di taman Alun-alun.

Dirinya tetap nekat berjualan di alun-alun, walau sudah empat kali diusir satpol PP, karena Agustus kemarin, barang daganganya laku keras. “Jika berdagang di dalam sini (alun-alun) , setiap hari saya bisa dapat uang sekitar Rp 250 ribu, sedangkan jualan di luar belum tentu dapat Rp 100 ribu. Makanya kami tetap bersikerah dagang di sini,” ujar warga Kecamatan Trenggalek tersebut.

Memang berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 11 tahun 2015 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat berdagang di area hijau, atau taman seperti alun-alun dilarang.

Romlah mengatakan, dirinya dan temen-teman pedagang lain kucing-kucingan dengan Satpol PP. Jika di alun-alun tidak ada Satpol PP,  dirinya dan pedagang kembali berjualan, tapi ketika ada, maka memilih tidak berjualan di sini.

Senada juga diungkapkan Misrikan salah seorang pedagang lainnya. Dia menambahkan, berdagang di alun-alun cukup menjanjikan.  Sebab, setiap hari selalu ada yang berkunjung. Untuk menghindari agar barang dagangan tidak sita setiap kali ada operasi dari Pol PP,  maka dirinya tetap meletakan barang dagangannya di sepeda anginnya. Sehingga, ketika melihat ada petugas yang akan datang, dirinya langsung meninggalkan tempat tersebut. “Makanya kami harus kejar-kejaran kepada petugas untuk berdagang di sini, dan syukurlah kendati di peringatkan mereka tidak menyita barang dagangan,” cetusnya.

Hal tersebut dibenarkan  Kabid Penegak Perda Satpol PP Trenggalek, Mujib Kamali. Dia menambahkan, setiap hari para pedagang selalu memanfaatkan kelengahan petugas untuk berdagang di area alun-alun.  Tidak setiap saat, Pol PP bisa terus mengawasi area alun-alun karena masih banyak tugas lainnya. Kendati demikian, pihaknya terus menjaga agar kondisi alun-alun tidak dipenuhi pedagang, selama perda yang mengaturnya masih berlaku. Sebenarnya pedagang diperolehkan berjualan di tempat itu ketika ada kebijakan dari pimpinan, seperti ada car free day, maupun car free night. “Apa boleh buat, karena masalah perut mereka selalu datang kembali, dan kami harus menegakan peraturan asalkan tidak sembarangan,” jelasnya. (jaz/and)

(rt/zak/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia