Kamis, 21 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Tiap Hari Ada Tujuh Janda dan Duda Baru

Selasa, 26 Sep 2017 21:55 | editor : Didin Cahya FS

Tiap Hari Ada Tujuh Janda dan Duda Baru

 TULUNGAGUNG – Penyandang status duda maupun janda baru di Kota Marmer yang dipicu keretakan rumah tangga tak juga surut. Bahkan, dari waktu ke waktu jumlahnya terus mengalami pertambahan. Pemicu utamanya tetaplah masalah ekonomi, dan melibatkan mereka yang mengadu nasib ke luar negeri sebagai  Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Data hingga per 22 September lalu, perkara yang diterima Pengadilan Agama Kelas 1A Tulungagung mencapai 2.297 kasus. Dari angka tersebut, 2.068 sudah menjalani sidang putusan dari berakhir perceraian.

Dengan begitu, jika angka yang telah diputus dibagi dengan jumlah hari mulai Januari hingga September ini, maka rata-rata setiap hari muncul tujuh pasangan suami istri (pasutri) yang telah diputus cerai, atau muncul tujuh janda dan duda baru.

“Memang jika dilihat, jumlah yang diputus dibagi dengan jumlah hari, angka perceraian di kabupaten ini masih tinggi. Meskipun tetap lebih rendah jika dilihat dari sudut pandang satu provinsi,” kata Wakil Panitera Suyono, kemarin (25/9).

Menurut dia, di kawasan Karesidenan Kediri sendiri, angka perceraian tertinggi berada di Blitar. Sedangkan, untuk Tulungagung di posisi ketiga.

Apalagi jika dilihat dari se-Jawa Timur, Tulungagung masih terhitung rendah karena tiga besar dikuasai Banyuwangi, Surabaya, dan Kabupaten Malang. “Kami melihat ini masih belum tinggi karena di daerah lain malah ada yang lebih banyak,” jelasnya.

Dia  tak menepis  selama ini pemicu keretakan rumah tangga tetap didominasi permasalahan ekonomi. Penyebab lainnya seperti perselingkuhan dan lain sebagainya jumlahnya tidak seberapa. “Permasalahan ekonomi tetap menjadi faktor utama perceraian yang banyak ditemuikan sampai sekarang,” ujarnya.

Pria asal Malang ini mengaku, sedangkan perceraian melibatkan PNS bukan dipicu masalah ekonomi. “Kalau perceraian melibatkan PNS, biasanya karena dilatarbelakangi perselingkuhan. Entah itu dari pihak suami maupun istri,” terangnya.

Dia menambahkan, meskipun demikian, ada sebagian sebagian kecil perkara perceraian yang masuk, tetapi mengurungkan untuk melanjutkan proses persidangan, lantaran mencabut berkas yang telanjur masuk.

Yono-sapaan akrabnya mengungkapkan, selama proses persidangan, pengadilan sudah berupaya memediasi antara kedua belah pihak. Kendati demikian, jika pihak suami maupun istri sudah siap mengakhiri ikatan pernikahan, secara otomatis juga harus diselesaikan seadil mungkin. “Pada intinya, kami tidak berharap ada perceraian. Namun, semua tetap dikembalikan kepada kedua belah pihak,” pungkasnya.

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia