Sabtu, 26 May 2018
radartulungagung
icon featured
Politik

Gelontor Miliran Rupiah untuk Revitalisasi Pasar Tradisional

Senin, 02 Apr 2018 10:19 | editor : Anggi Septian Andika Putra

PEDULI PASAR TRADISIONAL: Bupati Syahri Mulyo menandatangani prasasti revitalisasi pasar rakyat pada 2015 lalu.

PEDULI PASAR TRADISIONAL: Bupati Syahri Mulyo menandatangani prasasti revitalisasi pasar rakyat pada 2015 lalu. (dok ratu)

Keberadaan pasar tradisional di Kota Marmer menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat yang paling tangguh. Meski terjadi krisis ekonomi, hampir dipastikan roda ekonomi di pasar tersebut tetap berputar. 

Karena itu, sejak Bupati Syahri Mulyo dan Wabup Maryoto Birowo memimpin Kabupaten Tulungagung (2013-2018), pasar tradisional terus mendapat perhatian.   Salah satu langkah konkretnya, sejak 2015, sejumlah pasar tradisional di Tulungagung terus dikembangkan. Yakni melalui revitalisasi pasar. Tujuannya, tak lain agar pasar tersebut bisa lebih berkualitas dan nyaman bagi pedagang dan pembeli. Serta memberikan imbas positif perekonomian.

Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung, sejak tiga tahun terakhir, sudah banyak pasar yang direvitalisasi. Salah satunya Pasar Grosir Ngemplak yang menjadi pasar tradisional terbesar di Tulungagung. Selain itu,  ada beberapa pasar lagi seperti Pasar Kauman dan Pasar Gondang.

Program revitalisasi pasar ternyata tidak berhenti begitu saja. Pada 2017, pemerintahan Syahri Mulyo-Maryoto Birowo (SahTo) menggunakan dana alokasi khusus (DAK) untuk revitalisasi sejumlah pasar tradisional. Pada saat itu, ada dua pasar yang sudah direvitalisasi. Yakni Pasar Gondang dan Pasar Panjer.

Menurut pasangan calon (paslon) nomor urut dua itu, data disperindag untuk Pasar Panjer menggunakan dana tugas pembantuan (TP) sekitar Rp 6 miliar. Mengenai parameter revitalisasi pasar tradisional tersebut, pasangan yang diusung PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai NasDem ini menyebutkan kondisi fisik, jumlah pedagang, omzet atau perputaran uang, dan pasar harian. Sedangkan alur sebelum revitalisasi, yakni disperindag melihat langsung kondisi pasar, kemudian disperindag mengusulkan beberapa pasar yang butuh revitalisasi, lalu keputusan pasar mana yang direvitalisasi berdasar keputusan pusat.

Program revitalisasi tersebut terus berlanjut. Buktinya, awal 2018 lalu, giliran Pasar Ngentrong dan Pasar Sumbergempol. “Dua pasar itu direvitalisasi tahun ini,” kata Cabup Syahri Mulyo. Sebenarnya, disperindag juga mengusulkan kepada pusat untuk revitalisasi Pasar Bandung. Namun, yang disetujui baru Pasar Ngentrong dan Sumbergempol.

Terkait dana revitalisasi pasar, sejak kali pertama program dijalankan sudah mencapai puluhan miliar rupiah.  Selain itu, ada lebih dari lima pasar tradisional yang direvitalisasi. "Kala itu kami terus mengajukan ke pusat. Nanti pusat yang menentukan. Belum tentu semua usulan bisa diterima pusat," katanya. (wen/ed/and)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia