Senin, 28 May 2018
radartulungagung
icon featured
Politik

Nyekar ke Rembang, Puti Guntur: Kartini Inspirasi bagi Perempuan

Sabtu, 21 Apr 2018 10:21 | editor : Anggi Septian Andika Putra

NYEKAR KARTINI  :  Calon Wakil Gubernur Jawa Timur nomor 2 Puti Guntur Soekarno berziarah ke Makam RA Kartini di Rembang. Puti terinspirasi oleh tokoh emansipasi perempuan tersebut.

NYEKAR KARTINI : Calon Wakil Gubernur Jawa Timur nomor 2 Puti Guntur Soekarno berziarah ke Makam RA Kartini di Rembang. Puti terinspirasi oleh tokoh emansipasi perempuan tersebut.

REMBANG - Menyambut Hari Kartini 21 April, Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur nomor 2 Puti Guntur Soekarno berziarah ke makam tokoh emansipasi perempuan tersebut di Rembang. “Ibu Raden Ajeng Kartini menjadi inspirasi saya, juga bagi banyak tokoh, serta kebanyakan kaum perempuan. Semangat beliau tak pernah padam, bahkan makin terang menyala di era milenial,” kata Puti Guntur, Jumat (20/4), usai nyekar di makam pahlawan nasional tersebut.

Makam RA Kartini terletak di Desa Bulu, Rembang. Lokasi makam di sebuah bukit di belakang kantor Kecamatan Bulu. Terletak di jalur utama Rembang-Blora. “Selamat memperingati Hari Kartini bagi seluruh perempuan Indonesia. Selamat mengembangkan peran di semua sektor kehidupan. Semoga Indonesia Raya semakin jaya ke depan,” kata Puti Guntur.

Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan RA Kartini sebagai pahlawan nasional. Bung Karno juga menetapkan 21 April sebagai hari besar yang diperingati secara nasional.

Puti Guntur, cucu Bung Karno, nyekar ke Makam Kartini didampingi Sekretaris DPD PDI Perjuangan (PDIP) Jawa Timur Sri Untari Bisowarno. “Bagi Mbak Puti, semangat Kartini semakin meneguhkan hati untuk terus melangkah dan menatap tugas-tugas ke depan,” kata Untari.

Di lokasi makam, Puti menaburkan bunga segar. Dia khusyuk berdoa. “Semoga Allah SWT memberikan tempat bahagia dan mulia bagi Ibu Kartini dan semua pejuang bangsa ini,” kata Puti usai berdoa.

Puti Guntur juga berkunjung ke rumah yang sering disinggahi oleh Kartini. Puti melihat-lihat seisi rumah, termasuk kamar yang menjadi tempat istirahat Kartini ketika berkunjung ke rumah itu. “Kita mensyukuri kelahiran Ibu Kartini, yang di belakang hari berperan penting dalam sejarah bangsa, terutama dalam peran emansipasi perempuan,” kata Puti.

Di rumah itu, Puti Guntur dan Untari bertemu Ny. Janarto dari keluarga besar Bupati Rembang Djojo Adiningrat, suami Kartini. “Biasanya saat memperingati Hari Kartini, kerabat keluarga ada yang datang ke rumah ini,” kata Ny. Janarto.

“Semoga Mbak Puti Guntur Seoekarno terpilih jadi wakil gubernur Jawa Timur,” kata Ny. Janarto. Di rumah itu, dia menunjukkan foto kakeknya dan Bung Karno. Keduanya teman sekolah di HBS Surabaya.

Kartini meninggal dunia pada usia sangat muda, 25 tahun, ketika melahirkan putra pertamanya dari perkawinan dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Bagi Puti Guntur, Kartini mempraktikkan cara berpikir yang “out of the box” yang tidak lazim di zamannya. Dia tertarik cara berpikir kaum perempuan Eropa. “Ibu Kartini juga ingin mengangkat kaum perempuan pribumi yang saat itu perannya masih sangat terbelakang,” kata Puti.

Sebelum usia 20 tahun, Kartini banyak melakukan korespondensi dengan kawan-kawan dia di Belanda. Dia juga melahap koran, buku, dan majalah terbitan modern. Pemikiran-pemikiran modern telah diserapnya di usia sangat muda.

Buku berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli juga dibaca Kartini. Buku itu mengisahkan perlakuan buruk pemerintah kolonial Belanda pada bangsa pribumi Jawa.

Setelah meninggal, surat-surat Kartini dikumpulkan menjadi buku oleh Mr JH Abendanon. Buku itu ditulis ulang dalam bahasa Melayu oleh Armijn Pane, sastrawan pujangga baru, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pencipta lagu WR Soepratman menciptakan lagu Ibu Kita Kartini yang semakin mengabadikan nama Kartini. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga tergerak menulis buku Panggil Aku Kartini Saja. “Ibu Kartini tokoh yang sangat mencintai kaum dan bangsanya. Api nasionalisme menyala pada dirinya. Pikiran-pikirannya penuh humanisme,” kata Puti. (*/ed/and)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia