Selasa, 19 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Anak Desa Majan Ngabuburit dengan Ngaji Metode An Nahdliyah

Selasa, 05 Jun 2018 10:02 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TINGKATKAN IMAN: Anak-anak belajar mengaji denmgan metode An Nahdliyah.

TINGKATKAN IMAN: Anak-anak belajar mengaji denmgan metode An Nahdliyah. (WHENDY GIGIH PERKASA/RATU)

Sore hari banyak digunakan sebagian orang untuk ngabuburit alias menunggu waktu berbuka puasa. Beragam aktivitas dilakukan. Terutama bagi anak-anak. Seperti di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru. Sebagian anak-anak di sana, belajar mengaji An Nahdliyah sembari menunggu buka puasa. 

WHENDY GIGIH PERKASA

Sekitar pukul 16.00, anak-anak di Desa Majan mulai berdatangan ke Masjid Al Mimbar.

Di tempat itulah, mereka menjalani pondok Ramadan. Yakni dengan ikut mengaji.

Uniknya, anak-anak yang mengaji di salah satu masjid tertua di Tulungagung itu, menggunakan metode yang khas. Yakni dengan metode An Nahdliyah. 

Moch. Rozik Bastomi, salah seorang ustad yang juga mengajar mengaji di Masjid Al Mimbar mengatakan, metode An Nahdliyah berasal dari Tulungagung.

An Nahdliyah sendiri berarti sebuah kebangkitan. Istilah ini digunakan untuk sebuah metode cepat tanggap membaca Alquran yang dikemas secara berjenjang.

Yakni menggunakan jilid, yang dimulai dari jilid satu sampai enam.

Istilah cepat tanggap belajar Alquran An Nahdliyah, karena memang metodenya cukup cepat membuat anak didik bisa memahami bacaan Alquran.

Ciri khusus metode ini adalah materi pelajaran disusun secara berjenjang dalam buku paket enamjilid.

Setiap jilidnya memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda.

Misalnya jilid satu huruf hijaiyah masih terpisah.

Sedangkan pada jilid dua dan seterusnya sudah berantai.

Anak-anak yang belajar mengaji An Nahdliyah di Masjid Al Mimbar di Desa Majan sudah terbiasa tertib.

Begitu tiba, mereka duduk melingkar di sebuah meja.

Mereka kemudian mulai membaca Alquran yang tentu saja dibimbing ustad ataupun ustadah.

Karena menggunakan metode An Nahdliyah, anak-anak juga diajak melagukan saat belajar membaca Alquran.

Namun melagukan yang dimaksud tidak seperti qiraah yang sudah lihai, melainkan sesuai ketukan. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih memahami.

Guru ataupun pembimbing juga memberikan contoh, yang selanjutnya ditirukan anak-anak.

Bagaimana agar anak-anak lebih tertarik dan tidak jenuh? Tomi-sapaan Moch.

Rozik Bastomi-mengatakan, ada permainan. Tentu saja permainan tetap berhubungan dengan pelajaran mengaji Alquran.

Dengan begitu, ustad tidak monoton hanya menerangkan.

“Ada tiga pembimbing. Pengajian dimulai pukul 16.00 hingga buka puasa tiba. Tak jarang berbuka puasa bersama di masjid,” jelasnya.

Pengajian tersebut ternyata diikuti cukup banyak anak-anak.

Ada sekitar 30 anak. Mayoritas mereka warga sekitar masjid, dan ingin belajar mengaji. Para orang tua merespon positif kegiatan tersebut.

Bukan hanya sekadar mengisi kegiatan di masjid, tetapi mendidik iman dan takwa (imtak) anak sehingga lebih meningkat. Mempelajari ilmu agama juga perlu.

Bukan hanya itu, anak-anak juga mendapat siraman rohani.

Dari itulah, akan ada pembentukan karakter anak sehingga lebih taat beribadah.

Pengajian sendiri digelar setiap hari selama Ramadan. Pada hari biasa, juga ada pengajian baik untuk anak ataupun dewasa.

“Di masjid ini (Masjid Al Mimbar, Red) tidak pernah sepi. Setiap hari ada kegiatan. Misalnya mengaji, dilanjut buka puasa, tarawih, tadarus, iktikaf, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Agar lebih nyaman, lanjut pria ramah itu, beberapa bagian masjid direnovasi. Misalnya serambi, ataupun menara.

Namun renovasi tidak menghilangkan arsitek asli masjid yang dibangun pada Mataram Kuno. 

Kelebihan yang terdapat dalam metode An Nahdliyah antara lain, mudah dipahami oleh anak-anak. Karena dalam metode ini anak-anak diajak untuk melagukan saat belajar Alquran, sehingga dapat diterima oleh otak anak maupun orang dewasa pada umumnya.

Selain itu, semua santri yang belajar lebih cepat tanggap, konsentrasi, dan mudah dikendalikan, juga menyenangkan.

Bahkan melatih hubungan sosial, kerjasama, dan kekompakkan anak atau peserta metode An Nahdliyah, karena dalam proses pembelajaran ini dituntun secara bersama-sama untuk mengikuti ucapan guru, dan instrumen yang digunakan oleh guru tersebut.(*/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia