Selasa, 19 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Penemu Arca Brahma Mengira Hanya Akar dan Sempat di Tawar Paranormal

Rabu, 06 Jun 2018 09:19 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERSEJARAH : Udin menunjukkan arca temuannya yang diduga sebagai benda cagar budaya.

BERSEJARAH : Udin menunjukkan arca temuannya yang diduga sebagai benda cagar budaya. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Bumi Menak Sopal sepertinya masih memiliki banyak sekali cagar budaya yang terpendam. Ini dibuktikan dengan penemuan sebuah arca Brahma di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, oleh Saifudin, warga setempat. Tak pelak, temuan tersebut sempat menghebohkan warga sekitar. Sebab, diprediksi masih ada benda cagar budaya lainnya.

ZAKI JAZAI

Sabtu (2/6) lalu mungkin menjadi hari yang cukup berkesan bagi Saifudin, warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu. Itu tak lain karena sekitar pukul 11.00, dengan niatan ingin meratakan jalan di depan rumah, di luar dugaan dia menemukan sebuah arca yang diduga sebagai benda peninggalan bersejarah.

Seketika itu, kediamannya menjadi ramai dikunjungi berbagai orang dari segala usia dan lapisan untuk sekadar melihat arca temuannya tersebut.

Bahkan, keramaian masyarakat tersebut juga masih terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di kediamannya kemarin (5/6).

Saat itu, terlihat beberapa anak-anak baru saja pulang sekolah menyempatkan diri untuk berkunjung. Selain itu juga tidak kalah banyaknya, orang tua dari segala umur datang ke lokasi tersebut demi untuk membuktikan kebenaran temuan arca di tempat yang ramai menjadi perbincangan.

“Inilah keadaan rumah kami setelah penemuan sebuah batu yang mirip arca Dewa Brahma ini,” ungkap Saifudin.

Terlihat, dengan ramah dirinya menjawab berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan masyarakat. Bersamaan itu, kepada Koran ini dirinya langsung mulai bercerita tentang proses penemuan benda tersebut.

Ternyata, awalnya dia tidak menduga bahwa akan menemukan satu bongkahan batu yang berbentuk seperti arca peninggalan zaman dahulu. Sebab, sebelumnya tidak ada tanda bahwa di daerah tempat tinggalnya merupakan bekas permukiman zaman dahulu.

“Memang beberapa tahun lalu di sini sempat ditemukan batu berukiran pantat sapi. Namun karena tidak ada yang mengerti, temuan itu dianggap hal yang biasa,” katanya.

Karena halaman depan rumahnya yang biasa digunakan sebagai jalan masyarakat untuk pergi ke sungai banyak terdapat batu bata yang berserakan dan sebagian terkubur dalam tanah, dirinya pun berniat untuk meratakan.

Tujuannya agar jalan itu lebih mudah untuk dilalui masyarakat. Sehingga saat itu dirinya menggunakan berbagai peralatan yang dia gunakan untuk tujuannya tersebut. Seperti cangkul, linggis, dan sabit.

Namun hal yang di luar dugaan terjadi. Itu karena ketika melakukan penggalian dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter dari permukaan tanah, tiba-tiba proses penggaliannya terhenti. Itu tak lain karena dirinya menemukan sebuah benda mirip akar tumbuhan.

Tak pelak, itu membuat dirinya segera masuk ke rumah untuk mengambil kapak, guna membersihkan benda yang diduga akar tersebut.

Setibanya mengambil kapak dan duduk untuk membersihkan benda tersebut, pria yang akrab disapa Udin ini terlebih dahulu mengetuknya secara pelan. Saat itulah Udin mengetahui bahwa benda tersebut bukanlah akar, melainkan sejenis batu. Sebab ketika diketuk terasa sedikit keras.

“Mengetahui bahwa benda itu bukan akar, membuat saya penasaran. Makanya secara perlahan mengais tanah yang masih menutupi,” ujar pria 28 tahun ini.

Setelah mengais-ngais tanah, dirinya langsung mengangkat benda tersebut. Ternyata benda itu berbentuk seperti arca yang diduga peninggalan kerajaan zaman dahulu atau benda cagar budaya.

Sontak kabar tentang temuan tersebut langsung menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Sejalan dengan itu, kediamannya pun langsung dikunjungi masyarakat demi menyaksikan arca temuannya tersebut.

Bahkan, beberapa waktu lalu, sempat ada masyarakat yang mengaku sebagai paranormal dan sejenisnya ingin membeli arca temuannya dengan harga tinggi.

Namun karena tahu benda tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi, Udin memilih menolaknya dan melaporkan temuan tersebut ke pemerintah agar dilakukan penelitian lebih lanjut.

Sehingga terkait keamanan, dirinya telah berkoordinasi dengan pemuda desa, karang taruna, bahkan polsek setempat, agar berjaga-jaga untuk keamanan benda tersebut.

Tujuannya agar tidak ada pihak yang tidak bertanggung jawab, merusak, atau mencurinya.

“Semoga saja secepatnya pemerintah melakukan penelitian terkait temuan saya ini. Agar semuanya bisa jelas apakah termasuk benda cagar budaya atau bukan,” jelas anak kedua dari dua saudara ini. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia