Selasa, 19 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Blitar

BPCB Tunggu Laporan untuk Tindaklanjut Temuan Arca Dewa Brahma

Kamis, 07 Jun 2018 10:59 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MASIH BANYAK : Agus Prasmono ketika mengumpulkan batu bata yang diduga benda cagar budaya di area tempat ditemukannya arca.

MASIH BANYAK : Agus Prasmono ketika mengumpulkan batu bata yang diduga benda cagar budaya di area tempat ditemukannya arca. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Tindak lanjut penelitian terkait ditemukannya arca yang diduga benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, tampaknya tidak bisa segera dilakukan.

Pasalnya, hingga kemarin (5/6) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) belum menerima surat resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, terkait hal tersebut.

Koordinator wilayah Tulungagung-Trenggalek BPCB Jatim Haryadi mengatakan, memang dirinya telah mengetahui terkait temuan tersebut dari media masa. Kendati demikian, BPCB Jatim tidak bisa langsung melakukan penelitian ke lokasi, terkait temuan tersebut tanpa dasar yang jelas.

“Setelah mengetahui berita itu, saya langsung mengonfirmasi yang bersangkutan. Ternyata benar, tapi penelitiannya masih menunggu laporan resmi,” katanya.

Dia melanjutkan, dalam aturannya, jika ditemukan benda yang diduga cagar budaya, memang merupakan wewenang pemerintah setempat untuk mengklarifikasinya.

Setelah hampir dipastikan benda tersebut merupakan cagar budaya, selanjutnya pemerintah setempat membuat laporan resmi ke BPCB dan Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta untuk melakukan penelitian lanjutan. Sehingga sambil menunggu laporan tersebut, kini BPCB hanya bisa memantau agar benda tersebut dipelihara dengan baik.

“Jika ingin cepat ditangani, laporan bisa dikirim melalui email dan bukti fisiknya menyusul. Maksimal dua hari akan kami tindak lanjuti dengan melakukan penelitian ke lokasi,” ungkapnya.

Sedangkan terkait jenis apa arca yang ditemukan dan dari masa kerajaan mana, pria yang juga sebagai juru pelihara (jupel) Museum Wajakensis Tulungagung ini tidak bisa berkomentar banyak. Sebab, untuk menentukan hal itu harus didasari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli. Sehingga berita yang nanti disampaikan bukan berdasarkan spekulasi saja.

“Yang jelas pada zaman dahulu Tulungagung-Trenggalek merupakan wilayah Kerajaan Majapahit dan Kadiri. Sehingga besar kemungkinan temuan tersebut berasal dari salah satu kerajaan itu,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasi Pelestarian Sejarah, Tradisi, dan Cagar Budaya Disparbud Trenggalek Agus Prasmono menambahkan, temuan arca di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, itu merupakan hal yang mengejutkan di Trenggalek. Sebab, selama ini yang dikenal situs bersejarah berada di wilayah Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, dan sekitarnya.

“Temuan ini merupakan hal yang di luar dugaan, apalagi di wilayah Kecamatan Tugu. Sebab, selain arca, juga ada batu bata besar yang diduga peninggalan zaman kerajaan,” imbuhnya.

Apalagi beberapa tahun lalu, warga setempat juga telah menemukan potongan arca yang diduga sebagai Nandi.

Sehingga berdasarkan pengamatan sementara, daerah di sekitar temuan tersebut merupakan situs besar. Untuk itu, kini di lokasi dipasangi pita pembatas agar jangan didekati masyarakat sebelum dilakukan penelitian. Karena kemungkinan masih banyak benda cagar budaya lainnya.

“Secepat mungkin kami akan mengirimkan surat ke Balar Yogyakarta dan BPCB Jatim agar temuan ini langsung dilakukan penelitian,” tandasnya.

Seperti diberitakan, hingga Senin (4/6), masyarakat Desa Gondang, Kecamatan Tugu dan sekitarnya mendadak heboh. Pasalnya, di rumah Saifudin, salah seorang warga setempat ditemukan sebuah patung yang diduga sebagai perwujudan arca Dewa Brahma, peninggalan zaman lampau alias benda cagar budaya.

Untuk itu, hingga kini Disparbud Trenggalek masih berkoordinasi dengan Balar Yogyakarta dan BPCB Jawa Timur untuk meneliti lebih lanjut temuan tersebut.

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, benda tersebut ditemukan pada Selasa (2/6) lalu. Saat itu, Saifudin berniat meratakan tanah di halaman rumah agar mudah digunakan untuk jalan.

Namun setelah menggali dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter, tiba-tiba penggaliannya terhenti karena linggis yang digunakan tersangkut pada sebuah batu. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia