Selasa, 19 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Jamaah Masjid Baiturrakhim Berebut Sumbang Tumpeng Ketika Khataman

Sabtu, 09 Jun 2018 09:52 | editor : Anggi Septian Andika Putra

RUKUN: Para jamaah makan tumpeng bersama usai khataman Alquran

RUKUN: Para jamaah makan tumpeng bersama usai khataman Alquran (MAS TRI CAHYONO/RATU)

Momen Ramadan selalu berkesan. Banyak orang berlomba untuk dapat pahala. Salah satunya mengaji. Di Masjid Baiturrakhim Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, selain mengaji, para jamaah juga rebutan memberikan tumpeng untuk masjid. Itu terjadi setiap khataman Alquran.

WHENDY GIGIH PERKASA

Masjid Baiturrakhim Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, ramai digunakan untuk berbagai kegiatan setiap hari. Termasuk pada Ramadan ini. Selain berbuka puasa bersama dan Tarawih, juga ada pengajian Alquran.

Pengajian itu sama seperti di masjid atau pun musala lainnya. Yakni dimulai setelah salat Tarawih sekitar pukul 20.00. Jamaah putra atau pun putri bisa ikut dalam pengajian. Salah satu tujuannya belajar bersama dan dapat pahala.

Meski cenderung sama, ada yang paling berbeda di masjid itu saat pengajian. Lebih tepatnya ketika khatam Alquran. Saat itulah yang banyak ditunggu para jamaah.

Mereka berebut menyumbang nasi tumpeng. Nasi itu nantinya dimakan bersama-sama para jamaah dan masyarakat yang hadir.

Seperti terlihat beberapa hari lalu, saat tiba khataman Alquran. Para jamaah membawa tumpeng. Sajiannya pun lengkap. Mulai nasi kuning, ayam lodho, sambal goreng hati, mi, urap-udang, dan masih banyak lagi.

Tumpeng dibawa ke masjid. Dalam setiap khataman Alquran, jumlah tumpeng bisa lebih dari lima buah. Khataman biasanya setiap enam atau tujuh hari sekali. Artinya, selama Ramadan ini, bisa empat atau lebih khatam Alquran.

Nasi tumpeng yang sudah di bawa ke masjid selanjutnya didoakan oleh salah seorang imam. Proses itu dilakukan setelah pengajian atau tadarus khataman Alquran selesai.

Yakni sekitar pukul 23.00. Selanjutnya nasi tumpeng diedarkan keliling sambil setiap jamaah meniupkan doa ke arah tumpeng. 

Setelah didoakan, tumpeng kemudian dibagi rata. Mulai nasi hingga lauk. Para jamaah lalu makan bersama. Masyarakat sekitar masjid atau pun siapa saja juga bisa ikut makan.

Saat itulah, terlihat kebersamaan dan kerukunan masyarakat Desa Bendungan. Hebatnya, kegiatan ini sudah rutin dilaksanakan terutama saat Ramadan.

“Tujuannya hanya ingin mendapat berkah karena khatam Alquran. Itu saja,” ujar Adiyono, salah seorang warga yang membawa tumpeng.

Begitu juga dengan Sulistiono yang juga membawa tumpeng untuk khataman Alquran.

Menurut dia, itu merupakan sedakah atau amal. Tidak ada hal lain selain berharap mendapat berkah.

“Biar selamat, tambah rezeki dan semua lancar. Pokoknya berkah,” katanya.

Bukan hanya tumpeng, tidak sedikit jamaah lain atau pun warga sekitar yang ikut menyumbang. Misalnya jagung rebus satu ember, kacang rebus, kopi puluhan cangkir setiap hari, dan masih banyak lagi.

Tidak pernah ada paksaan atau pun ketentuan. Semua masyarakat yang menyumbang ikhlas.

Selain khataman Alquran, juga ada salat Kafaroh. Yakni salat untuk mengganti salat wajib yang ”bolong” selama satu tahun. Salat ini ada empat rakaat.

Setiap rakaat, setelah membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan membaca surat Al Qadar dan Al Kausar. Masing-masing 30 kali. Karena itulah, salat ini lebih lama dibanding salat Tasbih. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia