Kamis, 21 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Siapkan Tiga Strategi Atasi Kemacetan Mudik

Senin, 11 Jun 2018 10:18 | editor : Anggi Septian Andika Putra

LENGGANG: Suasana H-5 di Jembatan Ngujang belum begitu terlihat pemudik, kemarin (10/6).

LENGGANG: Suasana H-5 di Jembatan Ngujang belum begitu terlihat pemudik, kemarin (10/6). (AGUS DWIYONO/RATU)

TULUNGAGUNG - Lima hari jelang Lebaran atau H-5, aktivitas mudik di Kota Marmer yang melewati Jembatan Ngujang masih terpantau lengang dari arah Blitar maupun Kediri.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tulungagung kemarin (10/6), di lokasi kawasan rawan macet itu tampak seperti Minggu atau hari liburan. Hanya tampak beberapa kendaraan  mengangkut barang bawaan berupa kardus, baik dari kendaraan roda dua dan roda empat.

Anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tulungagung yang bertugas sebagai perwira pengendali kemarin Iptu Trisakti mengatakan, kondisi pos pantau  (pospan) di wilayah Ngantru sejak pagi hingga sore pukul 16.30, khususnya wilayah simpang tiga Ngantru belum terlihat peningkatan lalu lintas.

“Hingga sore hari ini (kemarin, Red), berdasarkan pantauan kami yang biasanya langganan macet belum ada peningkatan kendaraan, khususnya pemudik,” jelasnya.

Meskipun begitu, beberapa pemudik mulai terlihat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat yang membawa barang oleh-oleh. Itu pun  kebanyakan wilayah sekitaran Tulungagung, termasuk Kediri dan Blitar. Indikasinya, terlihat dari pelat nomor polisi (nopol).

“Yang mendominasi memang roda dua dan empat. Dan masih terlihat kendaraan lokal, Kediri dan Blitar. Selain itu, ada beberapa dengan nopol  W, L, dengan membawa kardus Lebaran,” ungkapnya.

Menurut dia, puncak arus mudik akan jatuh tiga hari hingga dua hari sebelum Lebaran, atau pada Selasa dan Rabu. Diperkirakan pada hari itu, puncak mudik akan terlihat peningkatan kendaraan roda dua, empat, serta enam.

“Menyiapkan beberapa strategi untuk mengatasi jika arus padat, terutama di Jembatan Ngujang,” ujarnya.

Dia mengaku, jika terjadi kepadatan, polisi menerapkan sistem contra flow, yakni sistem pengaturan lalu lintas yang mengubah arah normal arus kendaraan pada suatu jalan raya. Sistem ini dapat diterapkan untuk keperluan evakuasi darurat, pemeliharaan jalan, atau mengatasi kemacetan.

“Apabila jalur dari Tulungagung menuju Kediri atau Blitar itu kepadatannya tidak sama, maksimal ini bisa dilakukan sekitar 7 hingga 10 menit. Maka jika tidak segera dilepas, akan berakibat kemacetan baru dari arah berlawanan,” ujarnya.

Selain itu, jika terjadi kepadatan tidak begitu parah, polisi akan melakukan kegiatan tarik, yakni memanfaatkan lampu lalu lintas.

“Kami sudah mengatur dan mengantisipasi sedemikian rupa jika terjadi kepadatan di jalur Jembatan Ngujang ini, caranya yang terakhir dengan sistem buka tutup,” ungkapnya. (yon/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia