Kamis, 21 Jun 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Dekati Lebaran, Elpiji Melon Masih Sulit

Senin, 11 Jun 2018 10:28 | editor : Anggi Septian Andika Putra

STOK TIPIS: Tumpukan gas tabung melon yang kosong di salah satu pangkalan gas di wilayah Kecamatan Trenggalek yang belum diisi.

STOK TIPIS: Tumpukan gas tabung melon yang kosong di salah satu pangkalan gas di wilayah Kecamatan Trenggalek yang belum diisi. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Berita Terkait

TRENGGALEK - Menjelang lebaran ini, masyarakat Kota Keripik Tempe tampaknya harus bersusah payah dalam mencari elpiji ukuran tiga kilogram. Pasalnya, hingga kemarin (10/6) keberadaannya masih langka dan membuat harganya lebih mahal.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin mengatakan, memang untuk saat ini harga gas tabung melon di tingkat agen maupun pangkalan tidak terjadi kenaikan.

Namun, hal itu berbeda jika dilihat dari pengecer. Sebab, ada peningkatan penjual sebesar Rp 1 ribu setiap tabung, dari biasanya Rp 16 ribu, saat ini menjadi Rp 17 ribu pertabung.

“Dari harga segitu, biasanya pengecer mengambil keuntungan sebesar Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu per tabung. Sehingga sampai ke masyarakat harganya menjadi Rp 19 ribu per tabung,” katanya.

Dia melanjutkan, harga tersebut terjadi di daerah dataran saja, seperti wilayah perkotaan saja. Sebab, beberapa waktu lalu pemerintah kabupaten (pemkab) mendapatkan laporan dari beberapa daerah di pegunungan, harga elpiji melon mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per tabung. Itu cukup dimaklumi, mengingat medan yang sulit sehingga transportasi biasa menjadi lebih mahal.

“Beberapa waktu lalu saya sempat mengecek harga elpiji melon di daerah Kecamatan Pule yang harganya Rp 20 ribu per tabung. Itu sangat dimaklumi karena di atas gunung dan transportasinya dibopong atau digendong,” ungkapnya.

Ketidakseragaman harga itulah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) pemkab untuk menstabilkannya.

Untuk itu, selain melakukan tinjauan rutin ke beberapa pengecer, pemerintah akan menyebar petugas di beberapa tempat untuk melakukan pengamatan harga. Selain itu, bagi aparatur sipil negara (ASN) juga tetap dilarang untuk menggunakan gas melon yang disubsidi pemerintah untuk rakyat kecil.

Sehingga dengan kebijakan tersebut, para ASN harus bersiap pergi ke pengecer gas yang sedikit jauh, mengingat tidak semua pengecer gas menyediakan tabung gas nonsubsidi. Untuk itu, nantinya pemkab akan berkoordinasi dengan pihak pangkalan, agar menyediakan stok tabung gas nonelpiji, khususnya menjelang Lebaran seperti saat ini.

”Memang kebijakan yang saya ambil bagi ASN tidak populis. Namun apa boleh buat, karena tabung elpiji diperuntukan bagi rakyat yang saat ini permintaannya semakin tinggi mendekati lebaran,” jelas Ipin.

Sementara itu, Karuniawan, salah satu warga dari wilayah Kecamatan Kampak mengaku, saat ini untuk mendapatkan gas melon sangatlah sulit. Sebab, dirinya harus pindah ke pengecer satu ke pengecer lainnya untuk mendapatkannya. Itu pun dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya.

“Pengecer beralasan barangnya sulit makanya saat ini harganya Rp 24 per tabung. Sehingga karena butuh, saya tanpa pikir panjang membelinya,” akunya. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia